Mendengar Adzan Ketika Sedang Bersenggama (Hubungan Suami Istri)

Bersetubuh Saat Adzan

Mendengar Adzan Ketika Sedang Bersenggama (bersetubuh) - Bagaimana hukumnya ketika tengah melakukan hubungan suami-istri (bersenggama/bersetubuh), Tiba-tiba terdengar suara adzan dari Toa atau sound system musholla atau masjid terdekat, apakah aktivitas persenggamaan wajib dihentikan selama adzan berkumandang, atau bahkan boleh diteruskan tanpa mengindahkan suara adzan?

Jawaban

Ketika sedang melakukan hubungan suami istri atau bersenggama atau bersetubuh lalu terdengar suara adzan, maka aktivitas tersebut tidak diwajibkan berhenti. Bahkan diperbolehkan melanjutkan aktivitas bersenggama tersebut hingga selesai.

Bagi yang sedang hubungan suami istri atau bersenggama, tetap di sunnahkan menjawab adzan, akan tetapi kesunnahan menjawab adzan tersebut dilakukan setelah selesai bersenggama, bukan ketika sedang di tengah-tengah melakukan aktivitas bersenggama.[1]

Dari sini bisa dipahami bahwa, tidak ada tuntutan untuk menghentikan aktivitas bersenggama ketika bertepatan dengan dikumandangkannya adzan. Hal ini terbukti dengan adanya kesempatan (kesunnahan) menjawab adzan setelah selesai bersenggama (jimak).

Begitu pula dengan sholat. Ketika melakukan hubungan suami istri (bersenggama), tidak diwajibkan untuk menghentikan aktivitas tersebut hanya untuk menunaikan ibadah sholat dengan segera, akan tetapi lebih baik sholat dilakukan setelah selesai bersenggama. Karna Hal ini dapat menimbulkan ketidak khusyuk'an ketika sholat. Ketika sesuatu hal berpotensi dapat menghilangkan kekhusyukan ketika shalat, maka shalatnya menjadi makruh.[2]

Referensi

[1] I'anatut tholibin: juz 1, hal 289

وقوله: كمصل فيه حوالة على مجهول ?نه لم يذكر فيما مر حكم المصلي، وذكره في التحفة، فلعله سقط هنا من النساخ، وعبارتها: وتكره لمن في ص?ة إ? الحيعلة أو التثويب أو صدقت، فإنه يبطلها إن علم وتعمد.
ولمجامع وقاضي حاجة، بل يجيبان بعد الفراغ كمصل إن قرب الفصل.
اه.
وقوله: إن قرب الفصل قيد لسنية ا?جابة بعد ما ذكر، فإن طال لم تستحب ا?جابة للمذكورين، من المجامع وما بعده.


[2] Nihayatul muhtaj Ila Syarhil Manhaj: juz 2. hal 158

تكره الصلاة في كل حالة تنافي خشوعه

[حاشية الشبراملسي]
هذا معتمد سم على منهج عن الشارح (قوله: تنافي خشوعه) ومنه ما لو تاقت نفسه للجماع بحيث يذهب خشوعه لو صلى بدونه



Banyak Yang Baca Juga:

Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments