Kedudukan Ushul Fiqih dalam Hukum Islam

Ushul Fiqih

Kedudukan Ushul Fiqih dalam Hukum Islam - Dalam konteks pembahasan Fiqih, kita tidak bisa lepas dari pembahasan Ushul fiqih dan sumber-sumber pengambilan hukum yang kerap dikenal dengan mashadir al-syari'at atau usul al-Ahkam atau adillat al-Ahkam.  Ada perdebatan menarik seputar usul Fiqih dan mashadir al-syari'at yang selalu muncul sejak bertahun-tahun lalu.

Apakah dalam permasalahan ini, ijtihad (aktivitas penalaran hukum) dan tajdid (pembaharuan) dapat dilakukan seperti dalam cabang-cabang fiqih (furu' fiqih) atau apakah ia Qath'i (berstatus pasti),  alias tidak ada peluang tajdid, pengembangan dan ijtihad?

Mahmud Abdul Karim Hasan mengemukakan bahwa sebagaimana usul fiqih, Mashadir Al-syariat haruslah sesuatu yang qhat'i. karena Mashadir Al-syariat adalah bagian dari prinsip dasar (al-ushul al-kulliyyat) sebagaimana aqidah,  tidak dapat dijadikan pedoman hanya berdasarkan dzann (persangkaan)[1]. Allah berfirman:

وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا ۚ إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا

"Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran". (QS. Yunus 36)

As-syatibi berkata : "Usul Fiqih dalam agama adalah sesuatu  yang qhat'i, bukan zhanni. Hal ini karena usul Fiqih adalah bagian dari prinsip dasar syariat (kulliyyat as-syari'at),  Sedangkan prinsip dasar syariat haruslah bersifat qhat'i"[2].

Selanjutnya ia berkata "Sebagian ulama berkata bahwa tidak ada peluang bagi penetapan ushul syariat (sumber-sumber hukum syariat) dengan zhann (Dugaan). Karena ia adalah tasyri' (pensyariatan), sedangkan kita tidak diperbolehkan beribadah dengan dasar zhann Kecuali dalam masalah cabang (furu')". Berdasarkan hal di atas, maka usul Fiqih termasuk didalamnya mashadir al-syari'at, haruslah sesuatu yang yang qhat'i[3]

Dalam hal ini Imam Syafi'i menegaskan bahwa dalam menetapkan suatu hukum seorang qadli ataupun Mufti (pemberi fatwa) haruslah berpedoman pada sumber-sumber yang valid. dalam al-Um-nya Beliau berkata:[4]

Dari apa yang telah saya ungkap, baik yang terucap maupun yang tersirat, berkaitan dengan hukum Allah, kemudian hukum rasul-Nya, serta hukum yang dicetuskan oleh kaum muslimin adalah bahwa bagi orang yang memiliki kapasitas sebagai Hakim atau Mufti tidak diperbolehkan memberikan putusan hukum atau berfatwa melainkan harus berdasarkan khabar lazim (riwayat terpercaya ). Hal ini meliputi Al-kitab, kemudian As Sunnah atau apa yang dicetuskan oleh ahli ilmu yang tidak mengandung muatan pertentangan, atau qiyas (analogi) atas sebagian dari hukum-hukum di atas. Dan tidak diperkenankan baginya memberikan putusan hukum atau fatwa berdasarkan istihsan tak kala penerapannya bukanlah merupakan hal yang wajib dilakukan, atau tidak bersumber pada hal-hal di atas (Al-kitab, As-Sunnah, ijma' dan qiyas)

Yusuf Qardhawi memiliki pandangan berbeda, ia berpendapat bahwa usul Fiqih, sebagaimana cabang-cabang fiqih yang lain, diantaranya ada yang bersifat qhat'i, seperti sumber Al-Qur'an dan as-sunnah serta kaidah-kaidah qhat'i yang digali dari keduanya. seperti kaidah "taklif (pembebanan) sesuai dengan kemampuan", kaidah "segala urusan berdasarkan maksud dan tujuannya (al-umur bi maqashidiha)" dan kaidah "tidak membahayakan dirinya dan orang lain (la dlarar wal dlirar)". Di antara bidang usul Fiqih juga ada yang bersifat zhanni, yakni menerima ijtihad dan tajdid. Karena hal inilah, kerap sekali terjadi perbedaan di antara ulama ahli Ushul dalam berbagai masalah.[5]

Referensi

[1] Mahmud Abdul Karim Hasan, Al-Mashalih Al-Mursalah, dirasah tahliliyah wa munaqosyah fiqhiyyah wa ushuliyyah ma'a amtsilah tathbiqiyyah, Beirut: Dar al-nahdlah al-islamiyyah, 1995 h. 19
[2] Abu Ishaq Ibrahim bin Musa Al-lakhomi al-gharnathi (as-syathibi), Al-muwafaqat Fi Ushul Al-Ahkam, Bairut, dar Al-ma'rifah tt., Juz I h. 29
[3] As-syathibi, ibid. Juz I h. 31
[4] Muhammad bin Idris as-Syafi'i, Al-Umm, Bairut:dar Al-ma'rifah tt., Juz VII h. 313
[5] Yusuf al-Qardlawi, Fiqih Praktis dalam Kehidupan Modern, Terjemah Abdul Hayyie Al-Kattani dkk. dari "tasyir al-Fiqh li al-muslim al-mu'ashir fi dlau' al-Qur'an wa as-sunnah", Jakarta: Gema Insani Press, 2002, h. 37-38


Banyak Yang Baca Juga:

Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments