Hukum Menyajikan Hidangan Ketika Hari Asyuro

HIDANGAN ASYURO

Kitab I’anatuththalibin, juz II halaman 267:

قَوْلُهُ: وَأَخْرَجَ نُوْحًا مِنَ السَّفِيْنَةِ
وَذَلِكَ أَنَّ نُوْحًا - عَلَيْهِ السَّلَامُ - لَمَّا نَزَلَ مِنَ السَّفِيْنَةِ هُوَ وَمَنْ مَعَهُ: شَكَوْا اَلْجُوْعَ، وَقَدْ فَرَغَتْ أَزْوَادُهُمْ فَأَمَرَهُمْ أَنْ يَأْتُوْا بِفَضْلِ أَزْوَادِهِمْ، فَجَاءَ هَذَا بِكَفِّ حِنْطَةٍ، وَهَذَا بِكَفِّ عَدَسٍ، وَهَذَا بِكَفِّ فُوْلٍ، وَهَذَا بِكَفِّ حِمَّصٍ إِلَى أَنْ بَلَغَتْ سَبْعَ حُبُوْبٍ - وَكَانَ يَوْمَ
عَاشُوْرَاءَ - فَسَمَّى نُوْحٌ عَلَيْهَا وَطَبَخَهَا لَهُمْ، فَأَكَلُوْا جَمِيْعًا وَشَبِعُوْا، بِبَرَكَاتِ نُوْحٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ، 
Sabda Nabi:
WA AKHRAJA NUUHAAN MINASSAFIINATI;
Allah mengeluarkan nabi Nuh dari perahu.
Ceritanya :

Sesungguhnya Nabi Nuh 'alaihissalam ketika berlabuh dan turun dari kapal, beliau bersama orang-orang yang menyertainya, mereka merasa lapar sedangkan perbekalan mereka sudah habis. Lalu Nabi Nuh memerintahkan pengikutnya untuk mengumpulkan sisa-sisa perbekalan mereka. 

Maka dengan serentak merekapun mengumpulkan sisa-sisa perbekalan mereka. Ada yang membawa seraup biji gandum, ada yang membawa biji adas, ada yang membawa biji kacang ful, ada yang membawa biji himmash (kacang putih) dll, hingga terkumpul 7 (tujuh) macam biji-bijian. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Asyuro. Selanjutnya Nabi Nuh membaca basmalah pada biji-bijian yang sudah terkumpul lalu beliau memasaknya, setelah matang lalu mereka menyantapnya bersama-sama sehingga kenyang semuanya, berkat berkahnya Nabi Nuh ‘Alaihissalaam. 
فَذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى:
Demikian itu sebagaimana dalam Al-Quran (11:48)

قِيلَ يَانُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ
Difirmankan: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat dari orang-orang yang bersamamu.

وَكَانَ ذَلِكَ أَوَّلَ طَعَامٍ طُبِخَ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ بَعْدَ الطُّوْفَانِ - فَاتَّخَذَهُ النَّاسُ سُنَّةَ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ، وَفِيْهِ أَجْرٌ عَظِيْمٌ لِمَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ، وَيُطْعِمُ الْفُقَرَاءَ وَالْمَسَاكِيْنَ.

Dan itu adalah pertama kali makanan yang dimasak dibumi setelah adanya Thaufan (banjir bandang. jw). Dengan adanya peristiwa tersebut, maka orang-orang menjadikannya sebagai tradisi yang mereka laksanakan setiap hari Asyuro, dan barang siapa yang melakukan hal tersebut dan dibagikan kepada fuqoro wal masakin, maka akan mendapatkan pahala yang 
besar

اهـــ مِنَ الرَّوْضِ الْفَائِقِ.
Selesai, dari Kitab Arraudhul Faa`iq 
(Catatan: Cerita tersebut diatas juga termaktub dalam kitab Nihayatuzzain halaman 196) 

وَمِمَّا يُعْزَى لِلْحَافِظِ ابْنِ حَجَرٍ فِيْمَا يُطْبَخُ مِنَ الْحُبُوْبِ فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ
Diantara keterangan yang dinisbatkan kepada al hafizh Ibnu Hajar tentang biji-bijian yang dimasak pada hari Asyura 
فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ سَبْعٌ تُهْتَرَسْ
Pada hari Asyura tujuh biji-bijian yang dijadikan bubur;
بُرٌّ وَرُزٌّ ثُمَّ مَاشٌ وَعَدَسْ
Padi, gandum, maasy (nama biji-bijian) dan adas 
وَحِمَّصٌ وَلُوْبِيَا وَالْفُوْلُ
Kaacang putih, kacang polong dan kacang brul 
هَذَا هُوَ الصَّحِيْحُ وَالْمَنْقُوْلُ
Ini adalah yang shahih dan yang manqul 
Catatan:
1. Cerita tersebut diatas juga termaktub dalam kitab Nihayatuzzain halaman 196 

2. Menurut sebagaian ulama ada yang mengatakan jumlah biji-bijian yang dibuat bubur oleh Nabi Nuh 'alaihissalaam berjumlah sekitaar 40 (empat puluh) an. Kadzaa Akhbarani Bihii Syaikhunaa. 
Wallaahu A’lamu Bishshawaab


Artikel Terkait:

Silahkan berikan komentar Anda terkait dengan isi artikel di atas, komentar sopan dan tidak meninggalkan spam. Terima kasih

Disqus Comments

Cookie

Situs web ini menggunakan cookie untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami clicking on more information