Siapa Penyusun Tahlil

Penyusun dan Dalil Tahlilan

Siapa Penyusun Tahlil - Mungkin banyak yang bertanya, Siapa Penyusun Redaksi bacaan Tahlil?

Penyusun bacaan Tahlil adalah :

Sayid Abdullah bin Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Abdullah bin Alwi Al-Haddad (1132 H) Pengarang Ratib Haddad

Sayid Ja’far Al-Barzanji (1177 H) Pengarang Maulid Barzanji

Hukum Menghadiahkan Fatihah

Jika ada orang baca Fatihah lalu dihadiahkan ke ahli kubur apa Fatihah dibagi atau diberi
sempurna?

Ulama menfatwakan kedua, inilah yang sesuai dengan luasnya anugerah Allah (Fatawa Al-Kubra 3/165) Al-Hafidz as-Suyuthi:

Yasin adalah Khususiyah Malam Jumat

Hadis: “Barang siapa membaca di malam Jumat Surat Hamim ad-Dukhan dan surat Yasin maka Allah mengampuni-nya di pagi hari”

HR al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman, ia menilai dlaif, dari Abu Hurairah. Juga oleh Abu Ya’la Catatan: Mengamalkan Hadis dlaif adalah boleh, diperkuat lagi dengan hadis lainnya.

Yasinan Malam Jumat

Hadis: “Barangsiapa membaca surat Yasin dan Shaffat di malam Jumat, maka Allah akan memberi permintannya” HR Abu Dawud, sanadnya terputus
(Faidh al-Qadir)

Fatwa Kakek Ibnu Taimiyah:

“Surat Yasin Untuk Orang Wafat”

“Diantaranya adalah yang telah dikatakan oleh al-Majdu (Majduddin Abdus Salam at-Taimiyah, kakek Syaikh Ibnu Taimiyah)

tentang hadis: “Bacakanlah Yasin di dekat orang-orang mati diantara kalian” [Abu Dawud, Disahihkan Ibnu Hibban]

Hal ini mencakup orang yang akan mati, maupun orang mati, baik yang belum dikubur dan yang sudah dikubur. Maka yang setelah kematian adalah hakikat, yang sebelum mati adalah majaz”
(Syaikh Ibnu Najjar, al-Kaukab al-Munir 2/122)

Fatwa Para Ulama; al-Qurthubi,

As-Suyuthi, asy-Syaukani, ash-Shan’ani
"Hadis riwayat Abu Dawud dari Ma'qil Bacalah Yasin di dekat orang-orang yang meninggal' ini,
adalah mencakup pada orang yang telah meninggal, bahkan hakikatnya Yasin adalah untuk orang
yang telah meninggal" (Subul al-Salam Syarah Bulugh al-Maram II/119)

Tahlil Dengan Membaca Surat al-Fatihah, al-Ikhlas dan al-Mu’awwidzatain

Fatwa Imam Ahmad

“Dianjurkan baca al-Quran di Kubur. Ahmad berkata ”
Jika masuk kubur bacalah Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas, hadiahkan untuk ahli kubur, maka
akan sampai. Inilah kebiasaan sahabat Anshor yang bolak-balik kepada orang yang meninggal untuk membaca al-Quran” (Mathalib Uli an-Nuha 5/9)

Bacaan Tahlil Dengan Awal dan Akhir al-Baqarah

"Dari Abdurrahman bin 'Ala' dari bapaknya:
Bapakku berkata kepadaku: Wahai anak-anakku Jika aku mati, maka buatkan liang lahat untukku ... lalu bacalah di dekat kepalaku awal dan akhir surat al-Baqarah

Sebab aku mendengar Rasulullah bersabda demikian" (HR al-Thabrani No 15833, hadis hasan)

Ayat Kursi Dalam Bacaan Tahlil

Fatwa Imam Ahmad
Sungguh diriwayatkan dari Ahmad bahwa: “Jika kalian masuk ke kubur maka bacalah
ayat Kursi...” (Ibnu Qudamah, al-Mughni 5/78)

Kalimat Dzikir Bagi Orang Wafat

Jabir: “Kami bersama Nabi datang saat wafat Sa’ad bin Muadz. Nabi menya-latinya. Kemudian dikubur. Setelah tanahnya ditutup lalu Rasulullah membaca tasbih. Kami bertasbih lama. Lalu Nabi bertakbir dan kami pun bertakbir. Ada yang tanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau bertasbih dan ber-takbir?” Nabi: “Kubur hamba yang saleh ini menyempit, hingga Allah luaskan darinya”
HR Ahmad, HadisHasan

Dalam riwayat al-Hannad bahwa Nabi membaca Takbir, Tahlil dan Tasbih (az-Zuhd1/391)

Pendapat Ulama Salafi-Wahabi

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallama melakukan penyembelihan hewan dan menyedekahkannya untuk Khadijah setelah wafatnya (HR Muslim No 4464).

Syaikh berkata: Secara watak ini adalah sedekah. Dari dalil ini dapat diambil kesimpulan bahwa boleh bersedekah atas nama mayit baik berupa daging, makanan, uang atau pakaian, ini adalah sedekah, atau dengan qurban saat Idul Adlha. Kesemua ini adalah sedekah atas nama mayit” (Saleh
Fauzan, Fatawa al-Ahkam asy- Syar’iyah No 9661)

Fatwa Ulama Hijaz [Makkah-Madinah]

‘Tradisi Sedekah Makanan Boleh’

“Bersedekah atas nama mayit dengan cara yang syar’i adalah dianjurkan, tanpa ada ketentuan harus 7 hari, lebih atau kurang dari 7 hari.

Sedangkan penentuan sedekah pada hari-hari tertentu itu hanya merupakan kebiasaan masyarakat saja, sebagaimana difatwakan oleh Sayyid Ahmad Dahlan.

Sungguh telah berlaku di masyarakat adanya kebiasaan bersedekah untuk mayit pada hari
ketiga kematian, hari ketujuh, dua puluh, empat puluh hari serta seratus hari. Setelah itu dilakukan setiap tahun pada hari kematiannya.

Sebagaimana disampai-kan oleh guru kami Syaikh Yusuf al-Sanbalawaini.”
( Nihayat Zain bab Wasiat karangan Syeikh Nawawi Banten )

Tradisi 7 hari, 40 hari, 100 hari dan haul sudah diamalkan di sebagian Negeri Arab

Selametan 7 Hari

"Ahmad meriwayatkan dalam kitab Zuhud dan Abu Nuaim dalam al-Hilyah dari Thawus bahwa
'sesungguhnya orang-orang yang mati mendapatkan ujian di kubur mereka selama 7 hari. Maka para sahabat senang untuk memberi sedekah pada 7 hari tersebut'. Sanad riwayat ini sahih dan berstatus hadis marfu'. (al-Dibaj Syarah sahih Muslim II/490)


Artikel Terkait:

Silahkan berikan komentar Anda terkait dengan isi artikel di atas, komentar sopan dan tidak meninggalkan spam. Terima kasih

Disqus Comments

Cookie

Situs web ini menggunakan cookie untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami clicking on more information