Kebaikan Adalah Senjata Dalam Hidup

Senjata yang paling ampuh yang bisa dipergunakan untuk meluluhkan orang lain adalah kebaikan. Siapa pun dia dan bagaimana pun ia, pada hakekatnya ia pasti menyukai kebaikan.

Segala keburukan yang dibalas dengan keburukan, maka hanya akan memperkeruh permasalahan dan berujung dengan permusuhan. Ketika terjadi permusuhan maka ruang gerak akan sangat sempit.
Hikmah dan Hikayah Memuliakan Orang Yang Lebih Tua
Namun bukan hal yang mudah untuk melakukan kebaikan, apabila orang lain selalu membuat kita jengkel bahkan selalu menyudutkan kita. Apalagi kita dianggap saingan dalam suatu kegiatan.

Maka berbagai macam cara orang lain menghancurkan kita. Ini adalah realita kehidupan, ketika kita berada dalam sebuah lingkungan kerja maka hal yang seperti ini bisa kita dapati.

Melakukan yang terbaik dalam bekerja adalah sebuah tuntutan dalam pekerjaan. Namun jika hal terbaik yang dilakukan membuat orang lain merasa tidak senang, ini adalah problema yang mesti memang harus kita hadapi.

Menghadapi yang demikian bukanlah selayaknya dibalas dengan hal yang sama pula. Karena jika dihadapi dengan hal sama, maka hanya akan membuang energi yang ada pada diri kita.

Tanpa kita sadari Jika kita tetap untuk melayaninya maka kita telah masuk dalam perangkapnya. Bahkan kita tergolong sama dengan mereka.

Tetaplah menjalin hubungan yang baik, dan tetap beraktivitas sebagaimana biasanya. Dan tetap menjalin hubungan yang baik adalah solusi yang tepat untuk menghadapinya.

Ada sebuah kisah yang mengandung suri tauladan yang dapat kita petik hikmahnya, bahwa kebaikan adalah sebuah senjata untuk melawan keburukan.


Ahlak Ibrahim bin Ad-ham Ketika Di Pukuli Oleh Budak Yang Dimerdekakannya

Diriwayatkan bahwasannya Rasulullah SAW pada suatu hari hendak pergi kemesjid untuk melaksanakan shalat Ashar. Ketika dipertangahan jalan ia melewati rumah seorang warga.

Takkala melewati sebuah rumah milik seorang warga, ada seseorang melemparkan bungkusan kearahnya dan mengenai seluruh pakaian beliau. Beliau mencium baunya, bahwa bungkusan yang telah dilemparkan adalah berisi air kencing.

Rasulullah hanya terdiam dan tidak marah. Sehingga beliau kembali kerumah untuk membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian yang ia kenakan.

Pada keesokan harinya tepat ingin melaksanakan Sholat ashar beliau juga mengalami hal demikian. Dan kembali lagi kerumahnya.


Kejadian itu hampir berulangkali dilakukan oleh warga tersebut. Rasululullah tidak pernah menghiraukannya apalagi ingin membalasnya.

Hingga beberapa hari kemudian ketika rasulullah berkumpul dengan para sahabatnya beliau bercerita dan bertanya kepada sahabatnya yang setia. “Dimanakah salah satu warga yang pernah melemparkan air kencing itu kepadaku, beberapa hari ini aku tidak pernah lagi melihatnya”


Salah satu sahabat dengan nada agak emosi, seakan tidak terima dengan yang dilakukan warga itu kepada Baginda Rasul berkata “Dia sakit ya rasul, dan dia layak untuk mendapatkannya karena telah melemparmu dengan air kencing” .
“Suruh dia kemari” Jawab Rasul dengan lembut.

Atas jawaban tersebut, semua sahabat yang hadir tersentak dan heran.
Cara Allah Memberi Rizki dan Hikayah Taubatnya Ibrahim bin Ad-ham
“Untuk apa dia dibawa kemari, Bukankah dia, telah membuatmu susah ya rasul” tanya sahabat lagi.

Rosul menjawab “suruh dia kemari aku ingin bertemu dengannya”

Ketika orang tersebut dijemput dari rumahnya, maka ia menolak untuk menemui Rasulallah, hal ini disebabkan rasa takut atas kesalahannya selama ini kepada Rasulullah.

Akhirnya para sahabat memaksanya untuk datang menemui Rasulullah.

Saat berhadapan dengan Rasulullah, rasa takut dan malu menyelimuti dirinya. “sakit apa engkau derita wahai saudaraku” tanya Rasulullah dengan lembut. “wahai rasulullah, aku tidak bisa kencing beberapa hari ini” jawabnya penuh dengan rasa takut.

Rasulullah SAW pun akhirnya berdo’a kepada Allah SWT agar Allah berkenan menyembuhkan penyakitnya. Setelah beliau berdo’a, orang yang pernah melemparkan kencing itu merasakan dirinya telah sembuh dari sakitnya.

Spontan orang itupun memeluk Rasulullah dan menangis. Dengan penuh rasa bersalah orang itu berucap “Ya Rasulullah maafkanlah aku selama ini yang telah membuatmu selalu susah, aku tidak menyangka engkau membalas keburukanku dengan berbuat baik padaku..” semua sahabat yang menyaksikan terharu akan kejadian itu.
Sebaik-baik Hamba Allah, Siapakah Mereka dan Bagaimana Kriterianya?
Begitulah adanya jika kita membalas keburukan seseorang dengan suatu kebaikan.
"Balaslah Keburukan dengan Kebaikan"

Artikel Terkait:

Silahkan berikan komentar Anda terkait dengan isi artikel di atas, komentar sopan dan tidak meninggalkan spam. Terima kasih

Disqus Comments

Cookie

Situs web ini menggunakan cookie untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami clicking on more information