Menuju Allah Dengan Iradah (keinginan) yang Kuat (Karya al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad)

Fasal Pertama 

"Derajat Iradah (keinginan)”

"فصل"

إعلم أن أول الطريق باعث قوي يقذف في قلب العبد يزعجه ويقلقه ويحثه على الإقبال على الله والدار الآخرة, وعلى الإعراض عن الدنيا وعما الخلق مشغولون به من عمارتها وجمعها والتمتع بشهواتها والإغترار بزخارفها.


“Fasal”

Ketahuilah, bahwa awal perjalanan seorang hamba (menuju Allah) adalah “Keinginan” kuat yang dihempaskan ke dalam hati seorang hamba, “keinginan” tersebut membuat seorang hamba merasa cemas, gelisah dan memberinya dorongan untuk senantiasa menghadap (mendekat) pada Allah dan perihal akhirat, dan (keinginan kuat tersebut akan membuat seorang hamba) berpaling dari urusan duniawi dan segala yang menyibukkan manusia; Meramaikannya, mengumpulkannya, bersenang-senang dengan kenikmatan dunia yang menipu dan terbujuk oleh keindahan dunia yang fana.

Keinginan Adalah Anugrah

وهذا الباعث من جنود الله الباطنة, وهو من نفحات العناية وأعلام الهداية, وكثيرا ما يفتح به على العبد عند التخويف والترغيب والتشويق, وعند النظر إلي اهل الله تعالى والنظر منهم, وقد يقع بدون سبب.

“Keinginan” yang terdapat dalam hati seorang hamba tersebut merupakan bala tentara Allah yang batin, hal itu merupakan anugerah pertolongan dan tanda petunjuk dari Allah. Hal ini banyak terjadi pada seorang hamba ketika ia merasa takut, senang, rindu, ketika ia melihat ahli Allah atau dilihat oleh mereka, dan terkadang hal itu juga terjadi tanpa adanya sebab terlebih dahulu.

والتعرض للنفحات مأمور به ومرغب فيه والإنتظار والإرتقاب بدون التعرض ولزوم الباب حمق وغباوة. كيف وقد قال عليه الصلاة والسلام: إن لربكم في ايام دهركم نفحات ألا فتعرضوا  لها

Mencari anugerah dari Allah itu merupakan hal yang diperintahkan dan disenangi, sedangkan menunggu dan menunggu tanpa ada usaha dan diam di depan pintu anugerah adalah tindakan tolol dan bodoh. Bagaimana tidak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda; “Sesungguhnya Tuhan kalian memiliki anugerah pada hari-hari di masa kalian, ingatlah, carilah anugerah tersebut”.


ومن أكرمه الله بهذا الباعث الشريف فليعرف قدره المنيف, وليعلم أنه من أعظم نعم الله تعالى عليه التي لا يقدر قدرها ولا يبلغ شكرها فليبالغ في شكر الله تعالى علي ما منحه وأولاه, وخصه به من بين أشكاله وأقرانه فكم من مسلم بلغ عمره ثمانين سنة وأكثر لم يجد هذا الباعث ولم يطرقه يوما من الدهر.

Barangsiapa yang Allah muliakan dengan “keinginan” yang mulia tersebut hendaklah ia mengetahui derajatnya yang mulia, dan ketahuilah bahwa “keinginan” tersebut merupakan sebagian dari paling agung-agungnya nikmat Allah Taala padanya, yang kadarnya tidak dapat diukur, dan engkau tidak akan bisa sampai mensyukurinya, maka hendaknya engkau melebih-lebihkan dalam mensyukuri nikmat yang Allah anugerahkan dan utamakan. Dan (ketahuilah bahwa) dengan keinginan tersebut Allah mengutamakan seseorang diantara sekian banyak bentuk ciptaan dan semisalnya, berapa banyak dari orang Islam yang umurnya telah mencapai 80 tahun bahkan lebih, akan tetapi tidak menjumpai “keinginan” tersebut, satu hari pun dalam sepanjang masa “keinginan” itu tak pernah datang padanya.

Bersungguh-sungguh bukti Dari adanya Keinginan

وعلى المريد ان يجتهد في تقويته وحفظه وإجابته "اعني هذا الباعث" فتقويته بالذكر لله والفكر فيما عند الله والمجالسة لأهل الله, وحفظه بالبعد عن المحجوبين والإعراض عن وسوسة الشياطين, ويصدق في الإقبال على الله, ولا يتوانى ولا يسوف ولا يتباطأ ولا يؤخر وقد أمكنته الفرصة فلينتهزها, وفتح له الباب فليدخل, ودعاه الداعي فليسرع وليخذر من غد بعد غد فإن ذلك من عمل الشيطان, وليقبل ولا يتثبط ولا يتعلل بعدم الفراغ وعدم الصلاحية.

Bagi seorang murid hendaknya bersungguh-sungguh dalam menguatkan, menjaga dan menyambut “keinginan” tersebut. Adapun cara menguatkannya dengan berdzikir kepada Allah, bertafakkur terhadap ciptaan Allah dan bercengkerama dengan ahli Allah. Sedangkan cara menjaganya adalah dengan menjauhi orang yang terhalang (mendapat karunia), berpaling dari bisikan setan dan membenarkan dalam menghadap Allah, tidak memperlambat, tidak menangguhkan, tidak menunda dan tidak mengakhirkan. Apabila datang padanya satu kesempatan maka segeralah mengambilnya, apabila satu pintu telah dibuka maka segeralah memasukinya, ketika penyeru telah menyeru maka penuhilah, bersegeralah, dan takutlah menunda besok dan besok, karena hal itu merupakan perilaku setan. Hadapilah, jangan engkau halangi, dan jangan beralasan tidak sempat dan tidak pantas.


قال ابو الربيع رحمه الله: سيروا الى الله عُرجا ومكاسيرَ ولا تنتظروا الصحة فإن إنتظار 
الصحة بطالة.
وقال إبن عطاء الله في الحكم: إحالتك العمل على وجود الفراغ من رعونات النفوس.

Abu al-Rabi’ (semoga Allah merahmatinya) berkata; “Berjalanlah kalian menuju Allah meskipun dalam keadaan pincang dan tertatih-tatih, jangan kalian menunggu sehat, karena menunggu keadaan sehat (untuk berjalan menuju Allah) adalah kebathilan”.

Dan Ibn ‘Athoillah dalam kitabnya al-Hikam berkata; “Pelaksanaanmu terhadap ‘amal ‘ibadah ketika ada waktu senggang saja itu merupakan sebagian dari ketololan diri”.
Baca juga :
Risalah Adabu Sulukil Murid
Keutamaan Hafal 40 Hadits Nabawiyyah
Ciri-Ciri Manusia Akhir Zaman
Menuju Allah Dengan Iradah (keinginan) yang Kuat (Karya al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad) www.kiatjitu.com

Kitab; Risalah Adabu Sulukil Murid Karya; al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad


Artikel Terkait:

Silahkan berikan komentar Anda terkait dengan isi artikel di atas, komentar sopan dan tidak meninggalkan spam. Terima kasih

Disqus Comments