Menuju Kepada Allah dengan Taubat dan Menjauhi Dosa (Karya al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad)

Fasal Ke Dua

"Taubat dan menjauhi dosa"

"فصل"

وأول شيء يبدأ به المريد في طريق الله تصحيح التوبة الى الله تعالى من جميع الذنوب وإن كان عليه شيء من المظالم لأحد من الخلق فليبادر بأدائها الى اربابها إن امكن وإلا فيطلب الإحلال منهم, فإن الذي تكون ذمته مرتهنة بحقوق الخلق لا يمكنه السير الى الحق.

“Fasal”

Tahapan pertama yang harus ditempuh oleh seorang murid dalam perjalanannya menuju Allah adalah mentashihkan (membenarkan) taubat kepada Allah dari segala dosa, jika ada padanya kedzaliman-kedzaliman terhadap sesama makhluk maka hendaknya bersegera untuk menyerahkannya pada orang yang memilikinya jika hal itu memungkinkan, jika tidak maka hendaknya ia meminta kehalalan darinya. Karena tanggunganmu tergadaikan dengan hak sesama manusia, dan hal itu membuatmu tidak mungkin berjalan menuju Allah yang Haq.
Keutamaan Hafal 40 Hadits Nabawiyyah

Syarat Sahnya Taubat

وشرط صحة التوبة صدق الندم على الذنوب مع الصحة العزم على ترك العود إليها مدة العمر, ومن تاب عن شيء من الذنوب وهو مصر عليه او عازم على العود إليه فلا توبة له.

Syarat dari keabsahan taubat adalah kesungguhan dalam penyelasan atas dosa yang telah dilakukan dan benar-benar berniat untuk tidak kembali pada dosa yang telah dilakukan sepanjang hidup, barangsiapa yang bertaubat dari dosa sedangkan ia masih tetap melakukan dosa atau memiliki niat untuk kembali melakukan dosa tersebut maka sesungguhnya tidak ada taubat baginya.

وليكن على المريد على الدوام في غاية من الاعتراف بالتقصير عن القيام بما يجب عليه من حق ربه, ومتى حزن على تقصيره وانكسر قلبه من أجله فليعلم ان الله عنده إذ يقول سبحانه: أنا عند المنكسرة قلوبهم من اجلي.

Dan hendaknya seorang murid (penempuh jalan menuju Allah) senantiasa berada dalam puncak pengakuan bahwa ia telah “Lalai” dari menegakkan hak Tuhannya yang wajib baginya, manakala seorang itu bersedih hati karena “kelalaiannya” dan patah hati karenanya, maka ketahuilah bahwasanya Allah berada di sisinya. Karena Allah berfirman: “Aku berada disisi orang yang patah hatinya karena Aku”.


Risalah Adabu Sulukil Murid

Menjauhi Dosa Apapun, baik kecil atau besar

وعلي المريد ان يخترز من أصغر الذنوب فضلا عن أكبرها أشد إخترازه من تناول السم القاتل, ويكون خوفه لو إرتكب شيئا منها أعظم من خوفه لو اكل السم, وذلك لأن المعاصي تعمل في القلوب عمل السم في الأجسام, والقلب أعز على المؤمن من جسمه بل رأس مال المريد حفظ قلبه وعمارته. والجسم غرض للآفات وعما قريب يتلف بالموت, وليس في ذهابه إلا مفارقة الدنيا النكدة والنغصة وأما القلب إن تلف فقد تلف الآخرة فإنه لا ينجو من سخط الله ويفوز برضوانه وثوابه إلا من اتى الله بقلب سليم.

Wajib bagi seorang murid (penempuh jalan menuju Allah) menjauh dari dosa sekecil apapun, apalalagi dari dosa-dosa besar, ia lebih wajib lagi menjauhinya daripada meneguk racun yang mematikan, dan ketakutannya ketika ia melakukan dosa lebih besar daripada ketakutannya meneguk racun, demikian itu karena kemaksiatan pengaruhnya pada hati sama seperti pengaruh racun pada jasad, bagi orang yang beriman hati itu lebih mulia daripada jasadnya, bahkan modal utama bagi seorang murid (penempuh jalan menuju Allah) adalah menjaga dan merawat hatinya. Jasad adalah tujuan penyakit dan sesuatu yang dekat yang akan sirna sebab kematian, dan sirnanya jasad itu hanya menyisakan perpisahan dari dunia yang penuh dengan kesusahan dan kesulitan. Sedangkan hati, jika ia telah rusak maka rusak pula perihal akhiratnya, dan seseorang tidak akan selamat dari murka Allah, tidak akan mendapatkan ridla dan pahala dari-Nya kecuali orang-orang yang datang ke hadirat Allah dengan hati yang selamat.
Baca juga
Perjalanan Seorang Hamba Menuju Allah

Kitab; Risalah Adabu Sulukil Murid
Karya; al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad


Artikel Terkait:

Silahkan berikan komentar Anda terkait dengan isi artikel di atas, komentar sopan dan tidak meninggalkan spam. Terima kasih

Disqus Comments

Cookie

Situs web ini menggunakan cookie untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami clicking on more information