Menuju Allah Dengan Berbakti Kepada-Nya (Karya al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad)

Fasal ke Enam

"Mendekat dan Membaktikan Diri Kepada Allah"

"فـصـلٌ"
ويَنبغي لِلمُريد أَن يكونَ أَبعدَ النَّاسِ عنِ المَعاصي والمَحظوراتِ، وأَحفَظهُم لِلفَرائِضِ والمَأموراتِ، وأحرَصَهُم على القُرُباتِ، وأسرَعَهُم إلى الخَيراتِ، فإنّ المُريدَ لَم يَتَميَّزَ عن غَيرِهِ مِن النّاسِ إلا بالإقبالِ على الله وعلى طاعَتهِ، والتَّفرُّغِ عن كُلِّ ما يُشغِلُهُ عن عِبادَتِهِ.

“Fasal”

Seyogyanya bagi seorang murid (penempuh jalan menuju Allah) menjadi seseorang yang paling menjauh dari kemaksiatan dan perkara yang di larang, dan paling memelihara perkara di fardukan dan yang di perintahkan, paling gemar melakukan perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, dan paling cepat dalam melakukan kebaikan-kebaikan. 

Menuju Allah dengan Cara Suci dan Lapar (Karya al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad)
Sesungguhnya seorang murid tidak berbeda dengan orang lain kecuali dengan mendekat kepada Allah dan taat kepada-Nya, dan meniadakan segala hal yang dapat menyibukkannya dari beribadah kepada Allah.


ولِيكُن شَحيحاً على أنفاسِهِ، بَخيلاً بِأوقاتِهِ، لاَ يَصرِفُ مِنها قليلاً ولا كَثيراً، إلا فِيما يُقَرِّبهُ مِن ربّهِ، ويَعودَ عَليهِ بِالنَّفعِ في معَادِهِ.

Hendaknya ia menjadi orang yang pelit terhadap nafasnya, kikir terhadap waktunya, tidak mentasarrufkannya sedikit atau banyak kecuali pada perkara yang dapat mendekatkannya kepada Tuhannya, dan pada perkara yang manfaatnya akan kembali kepadanya kelak di akhirat.

Berbakti Kepada Allah Melalui Wirid yang Istiqomah

ويَنبغي أن يكونَ لهُ وِرْدٌ مِن كُلِّ نوعٍ مِن العِباداتِ يُواظِبُ عليها، ولا يسمَح بِتَركِ شيءٍ مِنها في عُسرٍ ولاَ يُسرٍ، فَلْـيُكثِر مِن تِلاوةِ القُرآنِ العظيمِ مَع التَدبُّرِ لِمعانيهِ، والتَّرتيلِ لألفاظِه، وليكُن مُمتلِئاً بِعَظمةِ المُتكَلِّم عِند تِلاوةِ كَلامِه، ولاَ يَقرأُ كَما يَقرأُ الغافِلون الذينَ يَقرؤونَ القرآنَ بِألسِنةٍ فصيحةٍ وأصواتٍ عالِيَةٍ وقلوبٍ مِنَ الخُشوعِ والتَعظيمِ لله خاليةٍ، يَقرَؤونهُ كما أُنزِلَ مِن فاتِحتِه إلى خاتِمَتِه ولاَ يدرونَ مَعناهُ، ولاَ يعلَمونَ لأيِّ شيءٍ أُنزِلَ، ولَو عَلِموا لَعمَلوا، فإنّ العِلمَ ما نَفعَ، ومَن عَلِمَ وما عَمِلَ فَلَيسَ بينهُ وبَينَ الجاهِلِ فَرقٌ إلا مِن حيثُ إنّ حُجَّةَ الله عليهِ آكَدُ، فَعَلى هذا يَكونُ الجاهِلُ أَحسنُ حالاً منه، ولِذلِك قيلَ: كُلُّ عِلمٍ لاَ يَعودُ عَليكَ نَفعُهُ فَالجَهلُ أَعوَدُ عَليكَ مِنهُ.

Dan seyogyanya bagi seorang murid memiliki wirid dari berbagai macam ibadah yang senantiasa ia kerjakan secara rutin, dan ia tidak mudah meninggalkan sesuatupun darinya baik dalam keadaan sempit ataupun lapang. Hendaknya ia memperbanyak membaca al-Qur’an serta tadabbur (merenungi) maknanya dan membaca tartil setiap lafadz-lafadznya. 
Hinaan Orang-orang Kafir Penghuni Neraka Membuat Orang Muslim yang Di Neraka Dimasukkan Ke Surga
Dan hendaknya ia penuh dengan mengagungkan Dzat yang berfirman ketika membaca firman-firman-Nya, jangan membaca seperti membacanya orang yang lalai, yaitu orang-orang yang membaca al-Qur’an dengan lisan fasih dan suara keras, tetapi hatinya tidak khusyuk dan tidak ta’dzim kepada Allah, mereka membaca Al-Qur’an sebagaimana yang diturunkan, mulai pembuka sampai akhir, akan tetapi mereka tidak mengerti maknanya, mereka tidak tahu sebab apa ayat itu diturunkan, seandainya mereka mengetahui niscaya mereka akan mengamalkannya, karena mengetahui sesuatu pasti memberikan manfaat. 

Menuju Allah Dengan Menjaga Diri dari Maksiat dan Tipu Daya Dunia (Karya al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad)
Namun barangsiapa yang mengerti akan tetapi ia tidak mau mengamalkan, maka ia tidak ada bedanya dengan orang bodoh kecuali dari segi hujjah Allah yang ada padanya lebih kuat. Dari sudut pandang inilah orang bodoh itu lebih baik keadaannya daripada orang yang mengerti tapi tidak mengamalkan. Oleh karena itu dikatakan; “Setiap ‘ilmu yang manfaatnya tidak kembali kepadamu, maka bodoh adalah lebih bermanfaat bagimu”.

Menyempatkan Waktu Untuk Berbakti Kepada Allah

ولِيكُن لكَ- أيّها المُريدُ- حَظٌّ مِن التَّهجُّدِ فإنّ اللَّيلَ وَقتُ خَلوةِ العَبدِ معَ مَولاهُ فأكثِر فيهِ مِن التَّضرُّعِ والاِستِغفارِ، وناجِ ربَّكَ بِلِسانِ الذِّلّةِ والاِضطِرارِ، عَن قلبٍ مُتحقّقٍ بِنِهايةِ العَجزِ وغايَةِ الاِنكِسارِ، واحذَر أن تَدعَ قِيامَ الليلِ فلا يأتي علَيك وقتُ السَّحرِ إلا وأنتَ مُستيقِظٌ ذاكِرٌ لله سُبحانَهُ وتعالى.
Wahai murid, hendaknya engkau memiliki waktu untuk melaksanakan shalat tahajjud, karena malam merupakan waktu seorang hamba berkholwat (menyepi) dengan Tuhannya, maka perbanyaklah berdoa di sana dengan segenap kerendahan hati dan memohon ampun, bermunajatlah kepada Tuhanmu dengan lisan yang hina dan seolah dalam keadaan darurat yang keluar dari hati yang menyatakan puncak kelemahan dan kepatahan. 
Abu Yazid Al Busthamy dan Temannya Nanti Di Surga Yang Ternyata Seorang Pemabuk
Takutlah kamu meninggalkan qiyamul lail (menegakkan ‘ibadah malam), dan jangan sampai waktu sahur datang kepadamu, kecuali kamu dalam keadaan terjaga berdzikir kepada Allah subahanahu wa Ta’ala.

Menuju Allah Dengan Menjaga hati (Karya al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad)
kiat jitu Berbakti Kepada Allah (Karya al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad) www.kiatjitu.com
Menuju Kepada Allah dengan Taubat dan Menjauhi Dosa (Karya al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad)

Kitab; Risalah Adabu Sulukil Murid

Karya; al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad

Artikel Terkait:

Silahkan berikan komentar Anda terkait dengan isi artikel di atas, komentar sopan dan tidak meninggalkan spam. Terima kasih

Disqus Comments