Sebaik-baik Hamba Allah, Siapakah Mereka dan Bagaimana Kriterianya?

HADITS KE TIGA PULUH DUA 

Sebaik-baik Ummat Nabi Adalah....

عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ قّالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِيَارُ أُمَّتِي مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِذَا أَحْسَنُوا اسْتَبْشَرُوا وَإِذَا أَسَاءُوا اسْتَغْفَرُوا وَإِذَا سَافَرُوا قَصَرُوا صَلَاتَهُمْ وَأَفْطَرُوا مِنْ صَوْمِهِمْ وَاِنَّ شِرَارَ أُمَّتِي الَّذِيْنَ وُلِدُوا فِي النِّعَمِ وَغُذُوا فِي النِّعَمِ وَهِمَّتُهُمْ أَلْوَانُ الطَّعَامِ وَأَلْوَانُ الشَّرَابِ وَإِذَا تَكَلَّمُوْا تَشَدَّقُوْا وَإِذَا مَشَوْا تَبَخْتَرُوْا وَيْلٌ لِلْجَرَّارِيْنَ أَذْيَالًا وَالْأّكَّالِيْنَ اِفْضَالًا وَالنَّاطِقِيْنَ أَشْعَارًا

Kiatjitu.com - Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda; “Sebaik-baik umatku adalah orang yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, apabila berbuat baik mereka bergembira (atasnya), apabila berbuat jelek mereka meminta ampun, apabila bepergian mereka mengqoshor shalatnya dan menghentikan puasanya. Dan seburuk-buruk umatku adalah orang-orang yang di lahirkan dalam berbagai macam kenikmatan, di beri makan bermacam-macam kenikmatan, kepentingannya adalah bermacam-macam makanan dan minuman, apabila berbicara besar mulut dan apabila berjalan berlagak. Celakalah bagi orang-orang yang menyeret ujung pakaiannya, makan berlebihan dan orang-orang yang mendendangkan syair”.

(مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا) قَالَ النَّوَوِيُّ قَالُوا الْمُرَادُ مِنْهُ أَنْ يَكُوْنَ الشِّعْرُ غَالِبًا عَلَيْهِ مُسْتَوْلِيًا بِحَيْثُ يَشْغُلُهُ عَنِ الْقُرْآنِ أَوْ غَيْرِهِ مِنَ الْعُلُوْمِ الشَّرْعِيَّةِ .

Imam An Nawawi berkata; Para ‘ulama’ berkata; Yang dimaksud dari syair di sini adalah syair yang dapat mengalahkan serta menguasainya yang sekiranya dapat melalaikannya dari Al Qur’an atau lainnya yang berupa ‘ilmu syar’i. (Sunan Ibnu Majah,Syarh).


قَالَ أَبُو عَلِىٍّ بَلَغَنِى عَنْ أَبِى عُبَيْدٍ أَنَّهُ قَالَ وَجْهُهُ أَنْ يَمْتَلِئَ قَلْبُهُ حَتَّى يَشْغَلَهُ عَنِ الْقُرْآنِ وَذِكْرِ اللَّهِ فَإِذَا كَانَ الْقُرْآنُ وَالْعِلْمُ الْغَالِبُ فَلَيْسَ جَوْفُ هَذَا عِنْدَنَا مُمْتَلِئًا مِنَ الشِّعْرِ وَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ لَسِحْرًا. قَالَ كَأَنَّ الْمَعْنَى أَنْ يَبْلُغَ مِنْ بَيَانِهِ أَنْ يَمْدَحَ الإِنْسَانَ فَيَصْدُقَ فِيهِ حَتَّى يَصْرِفَ الْقُلُوبَ إِلَى قَوْلِهِ ثُمَّ يَذُمَّهُ فَيَصْدُقَ فِيهِ حَتَّى يَصْرِفَ الْقُلُوبَ إِلَى قَوْلِهِ الآخَرِ فَكَأَنَّهُ سَحَرَ السَّامِعِينَ بِذَلِكَ.

Abu Ali berkata, "Telah sampai kepadaku dari Abu Ubaid, bahwa ia berkata, "Maksudnya adalah, hendaknya hatinya penuh dan tersibukkan dengan bacaan Al-Qur'an dan dzikir kepada Allah. Sebab jika hati itu terisi penuh dengan Al-Qur'an dan ilmu syar’i, maka kerongkongannya tidak akan terisi dengan syair. Dan sesungguhnya dalam kefasihan itu terdapat sihir. 

Ia berkata, "Seakan-akan makna dari 'penjelasan yang berlebihan' itu adalah dengan jalan memuji manusia dan meyakinkannya hingga hati orang lain berpaling kepada ucapannya. Lalu ia mencela orang lain dan meyakinkannya sehingga hati orang lain condong kepada perkataannya. Seolah-olah ia menyihir para pendengarnya dengan kefasihannya tersebut". (Sunan Abu Dawud, Syarh).


Nabi Memuji Ummatnya, Yaitu Hamba Allah yang....

Nabi ‘alaihishshalatu wassalam memuji ummatnya, yaitu orang-orang yang hidup dengan memiliki sifat tersebut dan mencela yang lainnya, seakan-akan beliau mendorong umatnya untuk taat dan istiqamah di atas sifat tersebut sehingga pada suatu malam dari malam-malam bulan Rajab Nabi ‘alaihishshalatu wassalam bangun tengah malam untuk melihat apakah di dalam masjid ada seorang sahabatnya yang bangun malam. 

Ketika mendekati pintu masjid, beliau mendengar suara Abu Bakar radliyallah ‘anhu yang sedang menangis di dalam shalat. 

Abu Bakar rdliyallahu ‘anhu berencana untuk menghatamkan Al Qur’an dalam shalat dua rakaat, namun ketika sampai pada ayat;

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (Qs. At Taubah 111).

Lantas dia menangis sangat sedih, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berhenti di samping pintu masjid dan air mata Abu Bakar rdliyallahu ‘anhu mengalir hingga membasahi tikar.

Dan dari arah yang lain, beliau mendengar suara Ali karramallahu wajhahu sedang menangis dengan suara yang keras. Dia bermaksud untuk menghatamkan Al Qur’an dalam shalat dua raka’at, namun ketika sampai pada ayat;

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الأَلْبَابِ

Katakanlah; “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”. Sesungguhnya orang yang ber’akallah yang dapat menerima pelajaran. (Qs. azZumar 9).

Lantas dia menangis hingga air matanya mengalir ke tikar.

Di arah yang lain di dalam masjid, Mu’adz bin Jabal radliyallau ‘anhu menangis dalam shalat dengan suara keras hingga air matanya mengalir ke tikar. 

Dia bermaksud untuk menghatamkan Al Qur’an dalam shalat, hanya saja dengan urut-urutan membaca setengah atau sepertiga surat lalu dia memulai membaca surat selanjutnya. Dan di pojok masjid, shahabat Bilal juga menangis dalam shalat.

Lantas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menangis bersama mereka hingga mereka selesai mengerjakan shalat, lalu Nabi ‘alaihishshalatu wassalam pulang dengan senang hati dan mereka tidak mengetahui tentang kehadiran Nabi ‘alaihishshalatu wassalam.

Semasa Hidup Sebagai Tukang Penipu, Ketika Mati Masih Bisa Menipu Malaikat

Kriteria Hamba Allah Yang Baik

Setelah masuk waktu subuh, ketika mereka (para sahabat) telah hadir di masjid dan melaksanakan shalat di belakang Nabi ‘alaihishshalatu wassalam, lantas beliau menghadapkan wajahnya kepada mereka dan bersabda dengan senang hati; Wahai Abu Bakar! Mengapa engkau menangis ketika sampai pada ayat; Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.(Qs. At Taubah 111)?. 

Abu Bakar menjawab; Bagaimana mungkin aku tidak akan menangis sedangkan Allah Ta’ala berfirman; “Aku membeli jiwa hamba-hamba-Ku”. Apabila seorang hamba itu memiliki cacat, tentunya Allah Ta’ala tidak akan membelinya atau apabila cacatnya nampak setelah di beli, tentunya pambeli akan mengembalikannya. Sementara apabila aku memiliki cacat pada saat di beli atau setelah membeli, tentu Allah Ta’ala akan menolakku dan aku akan menjadi penghuni neraka, karena itulah aku menangis.
Sayangnya Allah Kepada Hamba Yang Mukmin Ketika Sakit
Kemudian turunlah malaikat Jibril ‘alaihissalam dan berkata; Wahai Muhammad! katakana kepada Abu Bakar; Apabila pembeli telah mengetahui cacat seorang hamba, dan dia membeli beserta cacatnya, maka dia tidak berhak untuk mengembalikannya. Sementara Allah Ta’ala lebih mengetahui terhadap cacat hamba-Nya dari sebelum menciptakannya dan Allah Ta’ala akan membeli beserta cacatnya dan tidak akan mengembalikannya, demikian pula dengan cacat yang nampak setelah di beli.

Seperti masalah apabila seseorang membeli sepuluh orang hamba, lalu dia menemukan salah seorang dari mereka yang memiliki cacat, dan pembeli hendak mengambil yang tidak cacat dan mengembalikan yang lainnya, maka yang demikian itu Syara’ tidak memperbolehkannya bahkan memerintahkan untuk menerima semuanya. Dan Allah Ta’ala membeli setiap orang-orang mu’min termasuk orang-orang yang bersih, para Wali, para Nabi dan Rasul.

Lalu dengan memborong ummat, Allah Taala tidak mungkin akan mengembalikan orang-orang yang bersih, para Wali, para Nabi dan Rasul, maka dari itu dapat dimaklumi bahwa orang-orang yang memiliki cacat juga tidak akan di kembalikan. Akhirnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam merasa laga dan para shahabatpun meresa bahagia.

Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada ‘Aly karramallahu wajhahu; Wahai ‘Aly! Apa yang membuatmu menangis ketika membaca; Katakanlah; “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”. Sesungguhnya orang yang ber’akallah yang dapat menerima pelajaran.(Qs. azZumar 9)?. 

Aly karramallahu wajhahu menjawab; Bagaimana mungkin aku tidak akan menangis sedangkan Allah Ta’ala berfirman; Katakanlah; “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”. Padahal bapak kita Adam shalawatullahi ‘alaihi adalah orang yang paling mengetahui di antara manusia, diamana dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman;


وَعَلَّمَ آَدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhmya. (Qs. Al Baqarah 31).

Sementara kami tidak memiliki pengetahuan seperti Nabi Adam, mana mungkin kami sama dengannya? 

 Ahlak Ibrahim bin Ad-ham Ketika Di Pukuli Oleh Budak Yang Dimerdekakannya
Lantas malaikat Jibril turun dan berkata; Wahai Muhammad! katakanlah kepada Ali bahwa maksud firman Allah Ta’ala itu bukan seperti yang dia duga, tapi pada hari kiamat kelak tidak akan sama antara orang kafir dan orang mukmin, karena mereka tidak menyembah kecuali terhadap berhala, tidak beriman kepada Allah dan hari kiamat, sedangkan orang mu’min menyembah Allah dan setiap waktu mengucapkan; Laa ilaaha illallahu Muhammadurrasulullahi, apabila berbuat baik mereka bergembira (atasnya), apabila berbuat jelek mereka meminta ampun, apabila bepergian mereka mengqoshor shalatnya dan menghentikan puasanya, karena itu sudah pasti antara orang kafir dan orang mukmin tidak akan sama sebab tempat mereka di dalam neraka dan tempat orang mukmin di dalam surga.
Rahasia Sholat dan Kisah Taubatnya Fudlail bin ‘Iyad

Dilansir dari Kitab Usfuriyah


Artikel Terkait:

Silahkan berikan komentar Anda terkait dengan isi artikel di atas, komentar sopan dan tidak meninggalkan spam. Terima kasih

Disqus Comments

Cookie

Situs web ini menggunakan cookie untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami clicking on more information