Sayangnya Allah Kepada Hamba Yang Mukmin Ketika Sakit

HADITS KE TUJUH BELAS

Kasih Sayang Allah Kepada Hambanya Ketika Sakit


عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِي رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إذَا مَرِضَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ أَمَرَ اللهُ تَعَالَى الْمَلَائِكَةَ أَنْ اُكْتُبُوْا لِعَبْدِي أَحْسَنَ مَا كَانَ يَعْمَلُ فِي الصِحَّةِ وَالرَّخَاءِ .

Dari Abu Umamah Al Bahily radliyallahu Ta’ala ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Apabila seorang hamba yang mukmin sakit, maka Allah Ta’ala memberi perintah kepada malaikat (Kirom Al Katibin); Tulislah untuk hamba-Ku sebaik-baiknya amal yang dia kerjakan di saat sehat dan lapangnya”.

Dalam riwayat yang lain di sebutkan; Apabila seorang hamba yang mukmin atau mukminah sakit, maka sebelum sakit Allah Ta’ala akan mengutus empat malaikat kepadanya dan Allah Ta’ala memerintahkan kepada malaikat pertama untuk mencabut tenaganya, lantas dia mencabutnya dengan perintah Allah Ta’ala hingga hamba tersebut menjadi lemah. 

Dan Allah Ta’ala memerintahkan kepada malaikat ke dua untuk mencabut selera makannya, Malaikat ke tiga di perintahkan  untuk mencabut aura wajahnya hingga hamba tersebut menjadi pucat dan Allah Ta’ala memerintahkan kepada malaikat ke empat untuk mencabut semua dosa-dosanya hingga hamba tersebut menjadi suci dari dosa. 

Kemudian ketika Allah Taala hendak menyembuhkan hamba-Nya, Dia memerintahkan kepada malaikat yang mencabut tenaganya untuk mengembalikan kepadanya, memerintahkan kepada malaikat yang mencabut selera makannya untuk mengembalikan kepadanya, memerintahkan kepada malaikat yang mencabut aura wajahnya untuk mengembalikan kepadanya dan Allah Taala tidak memerintahkan kepada malaikat yang mencabut semua dosa-dosanya untuk mengembalikan kepadanya, 

lantas malaikat itu bersujud kepada Allah Taala dan berkata; Wahai Tuhanku! Kami adalah salah satu dari ke empat malaikat yang telah melaksanakan perintah-Mu, mereka bertiga Engkau perintahkan untuk mengembalikan apa yang telah mereka cabut darinya,  namun mengapa Engkau tidak memerintahkanku untuk mengembalikan kepadanya dosa-dosa yang telah aku cabut darinya? 

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman; Tidak baik bagi-Ku Dzat yang Maha Pemurah untuk mengembalikan dosa-dosa itu kepadanya setelah Aku membuatnya menderita karena sakit. 

Malaikat ke empat berkata; Wahai Tuhanku! Apa yang harus aku perbuat dengan dosa-dosa ini? 

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman; Pergilah engkau dan buanglah dosa-dosa itu di tengah lautan. 

Lantas malaikat ke empat pergi dan membuangnya ke tengan lautan. Lalu Allah Ta’ala menciptakan buaya dari dosa-dosa itu di tengah lautan. 

Dan seandainya hamba itu pergi ke akhirat, maka dia keluar dari dunia  dalam keadaan suci dari dosa sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Sakit panas sehari semalam dapat menghapus dosa setahun”.
Baca juga "Siapakah Orang Yang Imannya Paling Mengherankan?"

HIKAYAT

Seorang Yang Fasik Yang Terbuang dan Sekarat

KiatJitu.com - Di zaman Bani Israel, ada seorang laki-laki fasik yang hanyut dalam kemaksiatan dan dia enggan untuk meninggalkan kefasikannya sehingga penduduk setempat merasa resah dan kesulitan untuk mengusirnya. 

Akhirnya mereka merendahkan diri, memohon kepada Allah Ta’ala. Lantas Allah Ta’ala memberikan wahyu kepada Nabi Musa ‘alaihissalam; ‘Bahwa di suatu kaum Bani Israel ada seorang pemuda fasik, usirlah dia dari tempat mereka sehingga api neraka tidak menimpa terhadap mereka’. 

Kemudian Nabi Musa ‘alaihissalam pergi dan mengusir pemuda itu, dan pemuda itu lalu berkelana dari satu desa ke desa lainnya. 

Lantas Allah Ta’ala kembali memerintahkan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam untuk mengusirnya dari desa. Dan Nabi Musa ‘alaihissalam lalu mengusirnya dari desa. Kemudian pemuda itu pergi ke suatu hutan yang disana tidak ada manusia, burung atau binatang buas lantas dia sakit keras hingga jatuh tersungkur ke tanah dan berkata; Wahai Tuhan-ku! Seandainya ibuku ada di samping kepalaku, tentu ia akan menyayangiku dan menangisi atas kehinaanku. Seandainya ayahku berada di sisiku, tentu ia akan menolongku, memandikanku dan mengkafaniku. Seandainya istriku ada di sampingku, tentu ia akan menangis atas perpisahanku. Seandainya anak-anakku ada bersamaku, tentu mereka akan menangis di belakang jenazahku dan mereka akan berdo’a; Ya Allah! Semoga Engkau mengampuni ayahku yang mengembara seorang diri, yang lemah yang maksiat yang fasik yang di usir dari kota ke kota dan dari desa ke desa sampai ke hutan lalu keluar dari alam dunia ke alam baka dalam keadaan berputus asa dari semua makhluq kecuali dari rahmat-Mu. Ya Allah! Aku rela bila Engkau berkenan memutusku dari ayah, ibu, anak dan isteriku, namun janganlah Engkau memutusku dari rahmat-Mu. Aku rela bila Engkau berkenan membakar hatiku dengan memisahkanku dari mereka, namun janganlah Engkau membakarku dengan api neraka-Mu lantaran kema’shiyatanku.


Kemudian Allah Ta’ala mengutus bidadari dengan berwujud ibu dan isterinya, serta mengutus ghilman dengan berwujud anak-anaknya dan mengutus malaikat dengan berwujud ayahnya, lantas mereka duduk di samping pemuda tersebut dan menangisinya seakan-akan mereka adalah ibu, isteri, anak-anak dan ayahnya yang hadir di sisinya hingga pemuda itu hatinya nerasa damai dan berkata; Ya Allah! Janganlah engkau memutusku dari rahmat-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. 

Dan akhirnya pemuda itu kembali ke rahmatullah dalam keadaan suci dan mendapat ampunan dari Allah Ta’ala. Lantas Allah Ta’ala memberikan wahyu kepada Nabi Musa ‘alaihissalam; Pergilah engkau ke hutan ini dan tempat ini, di sana salah telah mati seorang wali dari wali-wali-Ku, mandikanlah, kafanilah dan shalatilah dia. Ketika Nabi Musa ‘alaihissalam telah sampai di tempat tersebut, dia melihat pemuda yang dulu pernah di usirnya dari kota ke desa dan dari desa kehutan dengan perintah Allah Ta’ala, dia juga melihat bidadari yang sedang menangisinya. 
Ahlak Ibrahim bin Ad-ham Ketika Di Pukuli Oleh Budak Yang Dimerdekakannya
Lalu Nabi Musa ‘alaihissalam berkata; Wahai Tuhan-ku! Bukankah ini adalah mayyit seorang pemuda yang fasiq yang aku usir dari desa atas perintah-Mu? 

Allah Ta’ala menjawab; Ya, benar wahai Musa! Akan tetapi Aku menyayangi dan mengampuninya sebab rintihannya di saat sakit dan berpisahnya dari tanah kelahirannya, anak-anak serta isterinya, dan Aku mengutus bidadari dengan berwujud ibunya dan mengutus malaikat dengan berwujud ayahnya karena kasih sayang kepadanya atas rasa hinanya dan pengembaraannnya, sebab apabila seorang pengembara telah mati, maka penghuni langit dan bumi menangisinya karena kasih sayang kepadanya, maka bagaimana mungkin Aku tidak menyayanginya sedangkan Aku adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.

 Sebaik-baik Hamba Allah, Siapakah Mereka dan Bagaimana Kriterianya?
Malu Karna dan Kepada Allah dan Hikayat Seorang Wanita 

Dilansir dari Kitab Usfuriyah


Artikel Terkait:

Silahkan berikan komentar Anda terkait dengan isi artikel di atas, komentar sopan dan tidak meninggalkan spam. Terima kasih

Disqus Comments

Cookie

Situs web ini menggunakan cookie untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami clicking on more information