Kesimpulan Kitab Adab Seorang Murid Karya al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad - Kiat Jitu >

Kesimpulan Kitab Adab Seorang Murid Karya al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad

Kesimpulan dari Pemaparan Pembahasan kitab Adab Seorang Murid yang dikarang oleh al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad yang bernama Risalah Adabu Sulukil Murid


"تـَتِـمَّـةٌ"
وَإِذا أَردتَ - أيُّها المُريدُ - مِن شَيخِكَ أَمراً أَو بَدا لَكَ أَن تَسأَلَهُ عَن شَيءٍ فَلا يَمنَعُكَ إِجلالُهُ وَالتَّأدُّبُ مَعَهُ عَن طَلَبِهِ مِنهُ وَسُؤَالِهِ عَنهُ، وَتَسأَلُهُ المَرَّةَ وَالمرَّتينِ وَالثَّلاثَ، فَلَيسَ السُّكوتُ عَنِ السُّؤاَلِ وَالطَّلبِ مِن حُسنِ الأَدَبِ، اللَّهُمَّ إِلاَّ أَن يُشيرَ عَليكَ الشَّيخُ بِالسِّكوتِ وَيَأمُرَكَ بِتَركِ السُّؤالِ، فَعِندَ ذَلكَ يَجِبُ عَليكَ اِمتِثالُهُ.

“Kesimpulan”
Wahai murid, apabila engkau menghendaki suatu hal dari tuan gurumu atau ada hal yang ingin engkau tanyakan pada tuan gurumu, maka jangan sampai keagungannya dan adabmu terhadapnya menghalangimu untuk mencari darinya dan bertanya padanya, tetapi bertanyalah kepadanya sekali, dua atau tiga kali, karena tidaklah diam dari bertanya dan mencari darinya itu merupakan adab yang baik, kecuali jika tuan gurumu memberimu isyarat untuk diam dan memerintahkanmu untuk tidak bertanya. Dengan demikian maka wajib bagimu menaati perintahnya.
Menuju Allah Dengan Mencari Rizki dan Berusaha Mencarinya

Seorang Murid dilarang Melawan Larangan Guru 


وَإِذا مَنعَكَ الشَّيخُ عَن أَمرٍ أَو قَدَّمَ عَليكَ أَحداً فَإِيَّاكَ أَن تَتَّهِمَهُ، وَلْتَكُن مُعتَقِداً أَنَّهُ قَد فَعَلَ مَا هُوَ الأَنفَعُ وَالأَحسنُ لَكَ، وَإذا وَقَع مِنكَ ذَنبٌ وَوَجدَ (اى غضب) عَليكَ الشَّيخُ بِسَبَبِهِ فَبادِر بِالاِعتِذارِ إِليهِ مِن ذَنبِكَ حَتَّى يَرضَى عَنكَ

Ketika tuan guru melarangmu tentang suatu perkara atau mengajukan salah seorang dari padamu, maka janganlah sekali-kali engkau mencurigainya, tapi yakinlah bahwa tuan gurumu telah melakukan hal yang lebih bermanfaat dan lebih baik bagimu. Dan ketika telah terjadi suatu dosa (kesalahan) darimu kemudian tuan gurumu marah kepadamu sebab dosa tersebut, maka segeralah engkau meminta maaf kepadanya dari dosamu sehingga gurumu ridlo terhadapmu.
Menuju Allah Dengan Berteman dan Bergaul dengan Guru

Ketika Murid Tidak Sependapat Dengan Guru


وَإِذا أَنكَرتَ قَلبَ الشَّيخِ عَليكَ كَأَن فَقَدتَ مِنهُ بِشراً كُنتَ تَأَلَفُهُ أَو نَحوَ ذَلكَ، فَحَدِّثهُ بِما وَقعَ لَكَ مِن تَخَوُّفِكَ تَغَـيُّرَ قَلبِهِ عَليكَ فَلـَعلَّهُ تَغَـيَّرَ عَليكَ لِشيءٍ أَحدَثتَهُ فَتَتُوبَ عَنهُ، أَو لَعَلَّ الذِّي تَوَهَّمتَهُ لَم يَكُن عِندَ الشَّيخِ وَأَلقاهُ الشَّيطانُ إِليكَ لِيَـسُوءَكَ بِهِ، فَإِذا عَرَفتَ أَنَّ الشَّيخَ رَاضٍ عَنكَ سَكَنَ قَلبُكَ بِخلافِ مَا إِذا لَم تُحَدِّثهُ وَسَكَتَّ بِمَعرِفةٍ منِكَ بِسلامةِ جِهَتِكَ.

Ketika engkau mengingkari hati tuan gurumu terhadapmu, seperti ketika engkau merasa kehilangan rasa bahagia darinya, maka bersikaplah kepadanya dengan sikap yang ramah dan semacamnya, dan ceritakanlah kepadanya apa terjadi padamu yaitu rasa takutmu akan berubahnya hati tuan gurumu kepadamu, dengan harapan hati tuan gurumu dapat berubah terhadapmu karena sesuatu yang engkau ceritakan kepadanya dan ia bertaubat darinya. 

Atau bisa jadi kecurigaan yang engkau tuduhkan kepada tuan gurumu itu tidak benar adanya hanya saja itu merupakan ulah setan yang telah menjatuhkan (rasa curiga) kepadamu untuk menyusahkanmu. Jika engkau telah mengetahui bahwa tuan gurumu ridla keadaanmu, maka hatimu akan tenang, berbeda dengan jika engkau tidak menceritakan kepadanya dan memilih diam dengan pengetahuanmu dan dengan keselamatan dirimu.
Menuju Allah Dengan Tidak Mencari Karomah

Murid Yang Akan Mewarisi Ilmu Seorang Guru


وَإِذا رَأيتَ المُريدَ مُمتَـلِئاً بِتَعظِيمِ شَيخِهِ وَإِجلالِهِ مُجتَمِعاً بِظاهِرِهِ وَبَاطِنهِ عَلى اِعتِقادِهِ وَامتِثالِهِ وَالتَّأَدُّبِ بِآدابِهِ فَلا بُدَّ أَن يَرِثَ سِرَّهُ أَو شَيئاً مِنهُ إِن بَقِيَ بَعدَهُ

Dan ketika engkau melihat seorang murid dipenuhi dengan hormat dan memuliakan kepada tuan gurunya, berkumpul pada dzahir dan batinnya perihal keyakinannya dan kepatuhannya serta beradab dengan adab tuan gurunya, maka sudah pasti ia akan mewarisi sir (rahasia) tuan gurunya atau sesuatu yang masih tersisa dari tuan gurunya.

"خاتمـة"

نذكر فيها شيئاً من أوصاف المريد الصادق


“Penutup”

Kriteria Seorang Murid sejati


Pada bagian ini kami akan menuturkan sebagian dari sifat-sifat orang yang tulus;

قَالَ بَعضُ العَارِفينَ رَضِيَ الله عَنهُم وَنَفَعنا بِهم أَجمَعين: لاَ يَكُونُ المُريدُ مُرِيداً حَتَّى يَجِدَ في القُرآنِ كُلَّ مَا يُريدُ، وَيَعرِفَ النُّقصَانَ مِنَ المَزيدِ، وَيَستَغنِي بِالمَولى عَنِ العَبِيدِ، وَيَستَوِي عِندَهُ الذَّهبُ وَالصَّعيدُ.

Berkata sebagian orang yang ma’rifat billah radliyallahu ‘anhum, semoga Allah memberi kita manfaat berkat mereka semua;

  • Tidaklah seorang murid dikatakan seorang murid (penempuh jalan menuju Allah) sehingga ia menemukan segala apa yang diinginkan dalam al-Qur’an, mengetahui kekurangan dalam kelebihan, merasa cukup dengan Tuan (Allah) dari seorang hamba dan baginya tidak ada bedanya antara emas dan debu.


المُرِيدُ مَن حَفِظَ الحُدودَ، وَوَفَّى بِالعُهُودِ، وَرَضِيَ بِالمَوجُودِ، وَصَبَرَ عَنِ الَمفقُودِ.


  • Seorang murid adalah orang yang mampu menjaga batasan-batasan, memenuhi janji, ridla dengan apa yang ada dan sabar dari apa yang tidak ada.


المُريدُ مَن شَكَرَ عَلى النَّعماءِ، وَصَبرَ علَى البَّلاءِ، وَرَضِيَ بِمُرِّ القَضاءِ، وَحَمَدَ رَبَّهُ في السَّراءِ والضَّراءِ، وَأَخلَصَ لَهُ في السِّرِّ وَالنَّجوَى.



  • Seorang murid adalah orang yang bersyukur atas nikmat, bersabar atas bala’, ridla dengan kegetiran takdir, memuji Tuhannya dalam keadaan lapang maupun sempit dan ikhlas kepada Tuhannya dalam hal rahasia dan yang lebih tersembunyi.


المُريدُ مَن لاَ تَستَرِقُّهُ الأَغيَارُ، وَلا تَستَعبِدُهُ الآثارُ، وَلا تَغلِبُهُ الشَّهوَاتُ، وَلا تَحكُمُ عَليهِ العَاداتُ. كَلامُهُ ذِكرٌ وَحِكمةٌ، وَصَمتُهُ فِكرَةٌ وَعِبرَةٌ، يَسبِقُ فِعلُهُ قَولَهُ وَيُصَدِّقُ عِلمَهُ عَمَلُهُ، شِعارُهُ الخُشوعُ وَالوَقاَرُ، وَدِثاَرُهُ التَّواضُعُ وَالاِنكِسارُ، يَتَّبِعُ الحَقَّ وَيُؤثِرُهُ، وَيَرفُضُ الباطِلَ وَيُنكِرُهُ، يُحِبُّ الأَخيارَ وَيُوالِيهِم، وَيَـبْغَضُ الأَشرارَ وَيُعادِيهِم، خُبْرُهُ أَحسنُ مِن خَبَرِهِ، وَمُعَاشَرَتُهُ أَطيَبُ مِن ذِكرِهِ، كَثِيُر المَعُونَةِ، خَفِيفُ المَؤُونَةِ، بَعيدٌ عَنِ الرُّعُونةِ.


  • Seorang murid adalah orang yang tidak dapat di perbudak oleh selain Allah, tidak dapat di perhamba oleh kehormatan, tidak dapat di kalahkan oleh syahwat dan tidak terkekang oleh adat kebiasaan. Ucapannya adalah dzikir dan hikmah, diamnya adalah berpikir dan ibrah, perbuatannya mendahului ucapannya, amalnya membenarkan ilmunya, syiarnya adalah khusyuk dan khidmat, penutupnya adalah tawaddu’ dan kerendahan diri, mengikuti perkara yang haq dan mengutamakannya, menolak kebathilan dan mengingkarinya, mencintai orang pilihan dan bersahabat dengannya, membenci keburukan dan memusuhinya, pengalamannya lebih baik ketimbang kabarnya, pergaulannya lebih baik dari sebutannya, banyak memberi pertolongan, ringan bekalnya dan jauh dari keteledoran.


أَمينٌ مَأمُونٌ، لا يَكذِبُ وَلا يَخونُ، لاَ بَخيلاً وَلا جَباناً، وَلا سَبَّاباً ولا لَعَّاناً، وَلا يَشتَغِلُ عَن بُدِّهِ، وَلا يَشِحُّ بِما في يَدِهِ، طَيِّبُ الطَّوِيَّةِ، حَسَنُ النِّيِّةِ، سَاحَتُهُ مِن كُلِّ شَرٍّ نَقِيَّةٌ، وَهِمَّتهُ فيما يُقَرِّبهُ مِن رَبِّهِ عَلِيَّةٌ، وَنَفسُهُ عَلى الدُّنيا أَبِيَّةٌ، لا يُصِرُّ علَى الهَفوَةِ، وَلا يُقدِمُ وَلا يُحجِمُ بِمُقتَضى الشَّهوَةِ، قَرِينُ الوَفَاءِ وَالفُتُوَّةِ، حَلِيفُ الحَياءِ وَالمرُوَّةِ، يُنصِفُ كُلَّ أَحدٍ مِن نَفسِهِ وَلا يَنتَصِفُ لَها مِن أَحَدٍ.


  • (Seorang murid) adalah orang yang jujur dan dapat dipercaya, tidak berbohong tidak pula berkhianat, tidak pelit tidak pula penakut, tidak suka menghina dan melaknat, tidak sibuk mencari jalan keluar, tidak kikir dengan apa yang ada dalam kekuasaannya, baik bathinnya, bagus niatnya, perjalanannya dari setiap keburukan adalah membersihkannya, cita-citanya terhadap apa yang dapat mendekatkan dengan Tuhannya luhur, nafsunya menolak terhadap dunia, tidak mudah tergelincir pada kesalahan, tidak maju (menuruti) dan tidak mundur (kalah) dengan tuntutan syahwat, tepat janji dan dermawan, menjaga malu dan keperwiraan, bersikap adil pada setiap orang melebihi dari kepada dirinya sendiri meskipun tidak ada seorang pun yang bersikap adil kepada dirinya.


إِن أُعطِيَ شَكَرَ، وَإِن مُنِعَ صَبَرَ، وَإِن ظَلَمَ تَابَ وَاستَغفَرَ، وَإِن ظُلِمَ عَفا وَ غَفَرَ، يُحِبُّ الخُمُولَ وَالاِسِتتَارَ، وَيَكرَهُ الظُّهورَ وَالاِشتِهارَ، لِسَانَهُ عَن كُلِّ مَا لا يَعنيِهِ مَخزونٌ، وَقَلبَهُ علَى تَقصِيرهِ في طاعةِ رَبِّهِ مَحزُونٌ، لاَ يُداهِنُ في الدِّينِ وَلا يُرضي المَخلوقِيَنَ بِسَخطِ رَبِّ العَالمِينَ، يَأنَسُ بِالوِحدَةِ وَالاِنفِرادِ، وَيَستَوحِشُ مِن مُخالَطَةِ العِبادِ، وَلا تَلقَاهُ إِلاَّ عَلى خَيرٍ يَعمَلُهُ، أَو عِلمٍ يُعَلِّمهُ، يُرجَي خَيرُهُ، وَلا يُخشَى شَرُّهُ، وَلا يُؤذِي مَن آذاهُ، وَلا يَجفُو مَن جَفَاهُ، كَالنَّخلةِ تُرمَى بِالحَجَرِ فَتَرمِي بِالرُّطَبِ، وَكَالأَرضِ يُطرَحُ عَليهَا كُلُّ قَبيحٍ وَلا يَخرُجُ مِنها إِلاَّ كُلُّ مَليحٍ، تَلوحُ أَنوارُ صِدقِهِ علَى ظَاهِرِهِ، وَيَكادُ يُفصِحُ مَا يُرَى علَى وَجهِهِ عَمَّا يُضمِرُ في سَرائِرهِ، سَعيُهُ وَهِمَّتُهُ في رِضَا مَولاهُ، وَحِرصَهُ ونَهمَتُهُ في مُتابَعَةِ رَسُولِهِ وَحَبِيبِهِ وَمُصطَفاهُ، يَتَأَسَّى بِهِ في جَميعِ أَحوَالِهِ، وَيَقتدِي بِهِ في أَخلاقِهِ وَأَفعَالِهِ وَأَقوالِهِ، مُمتَثِلاً لأمرِ رَبِّهِ العَظِيمِ في كِتابِهِ الكَرِيم حَيثُ يَقولُ: (وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنهُ فَانْتَهُوا)،


  • (Seorang murid adalah orang yang) ketika diberi ia bersyukur, jika tidak ia bersabar, jika berlaku dzalim ia segera bertaubat dan memohon ampun, jika didzalimi ia memaafkan dan mengampuni, senang khumul (tidak dikenal orang) dan tersembunyi, tidak senang menarik perhatian dan terkenal, lisannya terjaga dari perkataan yang tidak ada manfaatnya, hatinya merasa sedih saat lengah dalam melaksanakan ketaatan, tidak menipu dalam hal agama, tidak mencari ridla makhluk dengan murka Tuhan semesta alam, merasa senang dengan kesunyian dan kesendirian, merasa resah bergaul dengan orang-orang, tidak menjatuhkan dirinya kecuali pada kebaikan yang ia ‘amalkan, atau ilmu yang ia ajarkan, yang diharapkan kebaikannya, tidak ditakuti keburukannya, tidak menyakiti orang yang menyakitinya, tidak bersikap kasar pada orang yang berbuat kasar kepadanya, ia bagaikan pohon kurma yang dilempari dengan batu lalu membalasnya dengan anggur kering, bagaikan bumi yang selalu dilempari dengan kotoran tetapi tetap tidak mengeluarkan kecuali yang manis, cahaya ketulusannya nampak pada dzahirnya, hampir semua apa yang nampak pada wajahnya itu menggambarkan apa yang ada di batinnya, perjalanan serta cita-citanya mencari ridho-Nya, kesukaannya mengikuti Rasul, kekasih dan pilihan-Nya, mengikuti segala tingkahnya, meneladani akhlak, perbuatan dan ucapannya, dalam rangka menaati segala perintah Tuhan-nya yang Agung dalam kitab al-Qur’an yang mulia, dimana Dia berfirman;


وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنهُ فَانْتَهُوا

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah”.(Qs. Al Hasyr 7).

(لَقَدْ كَانَ لَكُمْ في رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَاليَومَ الآخِرَ وَذَكَرَ الله كَثيراً) 

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(Qs. Al Ahzab 21).

( وَمَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطاعَ الله) 

“Barangsiapa yang menaati Rasul sesungguhnya ia telah menaati Allah”.(Qs. An Nisa’ 80).

(إِنَّ الذَّينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ الله)

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu, sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah”.(Qs. Al Fath 10).

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ الله وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَالله غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah; ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs. Ali ‘Imran 31).

فَلْيَحْذَرِ الذَّينَ يُخالِفونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبُهُمْ عَذابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa ‘adzab yang pedih”.(Qs. An-Nur 63).

فَتَرَاهُ في غَايَةِ الحِرصِ عَلى مُتابَعَةِ نَبِيِّهِ مُمْتَثلاً لأَمرِ رَبِّهِ وَرَاغِباً في الوَعدِ الكَريمِ وَهارِباً مِنَ الوَعِيدِ الأَلِيمِ الوَارِدَينِ في الآياتِ الَّتي أَورَدناها وَفِيما لَم نُورِدُهُ مِمَّا هُو في مَعناها المُشتَمِلَةِ عَلى البِشارَةِ بِغَايَةِ الفَوزِ وَالفَلاحِ للِمُتَّبِعينَ لِلرَّسولِ، وَعَلى النَّذارَةِ بِغايَةِ الخِزيِ وَالهَوانِ لِلمُخالِفِينَ لَهُ

Engkau akan melihat seorang murid dalam keadaan yang sangat berhasrat dalam mengikuti nabinya, karena mengikuti perintah Tuhannya, senang dengan janji yang mulia, lari dari ancaman yang pedih yang tersebut di dalam ayat yang telah kami sampaikan, dan juga yang tidak kami sampaikan namun maknanya mencakup kabar gembira dengan puncak keberhasilan dan kejayaan bagi orang yang mengikuti Rasul, dan yang memuat ancaman dengan puncak kecamanan dan kehinaan bagi orang yang menyelisihinya.

7 Adab Seorang Guru dalam menghasilkan Murid Teladan Sejati
“Do’a”


Monggo “Baca Do’a dan Amin Bareng”.
Kini kitab Risalah Adabu Sulukil Murid karya Al Habib ‘Abdullah Al Haddad telah hatam

اللهم إنا نسألك بأنك أنت الله الذى لا إله إلا أنت الحنان المنان بديع السموات والأرض يا ذا الجلال والإكرام أن ترزقنا كمال المتابعة لعبدك ورسولك سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم فى أخلاقه وأعماله وأقواله ظاهرا وباطنا وتُحيينا وتُميتنا على ذلك برحمتك يا أرحم الراحمين

Ya Allah, sungguh kami memohon kepada-Mu, bahwa sesungguhnya Engkau adalah Allah yang tiada Tuhan selain Engkau yang Maha Pengasih, Maha Dermawan, Pencipta langit dan bumi. Wahai Dzat yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan, semoga Engkau memberi kami kesempurnaan mengikuti hamba-Mu dan Rasul-Mu yaitu baginda kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam akhlaknya, perbuatannya dan ucapannya secara dzahir batin, dan semoga Engkau menghidupkan dan mematikan kami di atas hal tersebut berkat rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

اللهم ربنا لك الحمد حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك (سبحانك لا علم لنا إلا ما علمتنا أنك أنت العليم الحكيم) . (لا إله إلا أنت سبحانك إنى كنت من الظالمين)

Ya Allah Tuhan kami, bagi-Mu-lah segala puji dengan puji yang banyak, baik lagi penuh barakah di dalamnya sebagaimana yang selayaknya bagi kebesaran Dzat-Mu dan keagungan kekuasaan-Mu (Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana). (tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim).

تمت هذه الرسالة للمريد المخصوص من ربه بالتثبيت والتأييد والتسديد ، وكان بحمد الله إملاؤُها فى سبع ليال أو ثمان من شهر رمضان سنة إحدى وسبعين وألف (1071) من الهجرته صلى الله عليه وسلم تسليما كثيرا والحمد لله رب العالمين

Kesimpulan Kitab Adab Seorang Murid Karya al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad kiat jitu
3 Etika Penting Bagi Seorang Murid Dalam Menuntut Ilmu

Kitab; Risalah Adabu Sulukil Murid

Karya; al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad

Berlangganan Untuk Mendapatkan Artikel Terbaru:

0 Komentar Untuk "Kesimpulan Kitab Adab Seorang Murid Karya al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad"

Post a Comment

Silahkan berkomentar apa saja, tapi tetap dalam koridor kesopanan